Showing posts with label Gita suci. Show all posts
Showing posts with label Gita suci. Show all posts

Monday, September 14, 2009

Angin ini

Aroma apa yang Engkau sertakan bersama hembusan angin ini, Tuhan?
Akankah ia bercerita tentang kesejukan?
Ataukah ia datang mengusap rambutku
sebagai pesan keselamatan dari-Mu?

Ketika angin ini menyentuh kulitku, aku tersenyum damai.


Duh Penyelamat, angin bagaikan tentara-Mu yang menusukku dengan pedang lembutnya
Apakah Engkau sedang mengajarkanku tentang nama-Mu di balik angin ini?
Ah, semoga saat ini hatiku sedang ingin belajar

Apakah ini pertanda hati-Mu sedang riang hari ini?
Keceriaan apa lagi yang terjadi di rumah-Mu?
Ataukah angin ini sengaja Engkau kirimkan untuk menjemput doa-doaku?

Ketika angin ini menyentuh kulitku, aku tersenyum damai.

Tuhan, datanglah!

Biarkan seluruh air mataku habis mengering setelah mengalir terlalu banyak dalam tangisan malamku ini, Tuhan. Biarkan air mataku tumpah membebaskan dirinya untuk membuktikan kerinduannya pada-Mu. Biarkan saja, karena malam ini semua jalan telah kukosongkan untuk kita berdiri berhadap-hadapan.

Dukaku yang meruah di persimpangan jalan menitipkan pesan pada-Mu. Kutahu dosa-dosaku terlalu banyak dan aku tak berhak meminta apapun selain pengampunan-Mu, tapi cintaku berontak dan berkata: “Aku hanya menginginkan Engkau, utuh-utuh. Tak lebih dari itu.”

Aku tahu bahwa bahkan surga pun tak pantas untukku, tapi nada-nada fortessimo yang dipetik oleh jemari halus dalam dawai hatiku hanya mengalunkan melodi cinta untuk-Mu. Maka biarkan musiknya tetap mengalir agar seruan ini menggema di setiap sudut-sudut kota yang lengang.

Biarkan kegilaan ini bersenandung dalam ujung ketertatihan pencarian kesejatiannya. Biarkan ia mengakui semua apa yang ada di dalam dirinya sepenuh kejujuran. Biarkan ia menarikan langkah dansanya yang terbaik dalam pertunjukan kudus cintanya di teater pemujaan-Mu yang agung. Biarkan racun keegoisan di cawan perak dalam hatiku tumpah habis agar Engkau bebas mengisinya dengan anggur cinta dari piala emas-Mu.

Kekupu yang beterbangan beserta dayang-dayang bermahkota daun salam itu pun telah kuusir dari pekarangan hatiku. Kini kamar hatiku kosong dan aku menanti-Mu sepenuh kerinduan di pintu gerbang altar cintaku yang sepi.

Datang, datanglah karena aku hanya menginginkan Engkau.